Setelah syarat-syarat selesai, maka tiket bisa dipastikan. Saya mengikuti prosedur di Dikti untuk keperluan tiket ini sehingga yang saya perlukan adalah komunikasi dengan penyedia tiket (which was not a pleasant experience). Saya pastikan keberangkatan tanggal 6 September 2013. Rute keberangkatan saya: Yogyakarta - Jakarta - Kuala Lumpur - Amsterdam. Maskapai yang digunakan adalah Malaysian Airlines. Saya perlu ke Jakarta dulu karena menjelang keberangkatan saya harus melakukan proses lapor diri ke Dikti lebih dahulu dan mengisi beberapa formulir.
Saya berangkat dari Bandara Adisucipto Yogyakarta jam 8.00. Apapun yang terjadi, meninggalkan kota ini bukan hal yang mudah bagi saya. Menggunakan Garuda, saya berharap bisa sampai di Jakarta sekitar pukul 9 pagi sehingga ada waktu untuk lapor diri ke Dikti sebelum jumatan.
Setelah sampai di Jakarta, saya harus ke Dikti. Permasalahan berikutnya, masak mau bawa koper yang berat gini? Jadilah saya mencari tempat penitipan koper. Menggunakan Garuda, saya turun di D1, tempat penitipan koper setelah tanya-tanya ternyata dekat. Keluar dari arrival, belok kanan, setelah itu masuk melalui pintu keluar berikut. Memang melalui pintu keluar, sehingga harus minta ijin ke penjaga disitu. Biaya penitipan dihitung berdasarkan jumlah hari dan berat. Karena berat koper saya kurang dari 20 kg, maka biayanya Rp 35 rb.
Setelah itu, saya bersama satu teman (pak Taro - dari Teknik Geologi UPN) ke Dikti. Beliau akan lapor diri juga, tetapi dengan keberangkatan ke Jerman. Berhubung waktu mendesak, saya bersama beliau naik taksi, habisnya lumayan juga sekitar Rp 130 ribuan. Di Dikti, kami menemui mas Arif di lantai 5 (Diktendik). Tiket saya sudah disiapkan (sebelumnya saya sms mas Arif terlebih dahulu). Tiket pak Tarto saat itu belum siap dan baru disiapkan setelah sholat Jumat. Setelah urusan selesai, kami berangkat kembali ke bandara Soekarno-Hatta. Pak Tarto masih berangkat tengah malam sehingga mencari penginapan terlebih dahulu, sementara saya berangkat jam 7 malam sehingga langsung ke bandara.
Di bandara, saya berangkat dari D2 menggunakan Malaysian Airlines untuk ke Kuala Lumpur terlebih dahulu. Saya check-in jam 5, meskipun seharusnya 1 jam sebelumnya, tetapi karena dibolehkan, ya saya check-in dulu. Belajar dari pengalaman-pengalaman dulu, saya tidak membawa terlalu banyak barang, tidak sampai 20 kg koper. Jadi, ya gampang saja semua urusannya. Buat saya, kalau mau ke luar negeri, yang penting adalah rice cooker, beras (1 kg cukup), abon, dan sambal pecel (selain perlengkapan standar: dokumen dan pakaian). Ini untuk darurat pertama, cukup untuk satu minggu pertama. Setelah itu, biasanya sudah mengenal medan dengan baik.
Sekitar jam 7.35, saya naik pesawat menuju KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Sampai disana jam 10.35 malam. Saya langsung naik kereta dari bandara terminal berikutnya untuk berangkat jam 11.55 malam. Sebelumnya saya pernah ke bandara ini, jadi lumayan tahu prosesnya, tinggal melihat ke papan petunjuk saja, kemudian naik kereta ke terminal tujuan. Jam 11.30 malam, setelah berbagai pemeriksaan ketat, saya masuk ke pesawat, dan kemudian pesawat berangkat jam 11.55 malam.
Pesawat menempuh perjalanan sekitar 12 jam. Bayangkan saja, berada dalam pesawat terus menerus selama 12 jam pada malam hari, bukan hal yang menyenangkan meskipun para pramugari dan pramugara kadang beberapa saat sekali keliling untuk menawarkan permen, minuman, makanan, snack. Things were still frightening for me at that time. Akhirnya sekitar pukul 6.55, pesawat mendarat di Bandara Schipol. Benar-benar melegakan.
Setelah turun dari pesawat, saya antri di imigrasi bandara. Lagi-lagi semua sangat lancar. Di pesawat, menjelang turun sudah ada petunjuk di layar TV tentang proses ini. Ada beberapa loket disitu, dibedakan antara yang dari negara-negara Uni Eropa dan dengan negara-negara selain itu. Saya tunjukkan visa, setelah itu ditanya keperluan, saya bilang untuk riset Ph.D. Setelah itu menanyakan apakah saya sudah beli tiket pulang, saya bilang sudah. Petugas minta ditunjukkan, tapi karena harus membongkar barang di tas, saya agak males. Eh belum dibongkar, dia bilang, "ok, silahkan terus untuk ambil bagasi".
Saya kemudian menunggu bagasi dan keluar dari pintu "no declaration". Pintu ini khusus untuk yang tidak perlu menuliskan barang-barang bawaan (semacam obat, tanaman, makhluk hidup, dan lain-lain, biasanya berupa komoditas dagangan). Jadi jika tidak, langsung saja dari pintu "no declaration". Perlu diketahui, pada point ini, ada beberapa pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman saya mulus saja, tapi ada teman yang dipotong gembok kopernya, ada juga orang lain yang saya ketemu belakangan punya pengalaman berbeda: abon yang dia siapkan diambil. Saya juga tidak tahu mengapa punya saya aman-aman saja.
Dari Schipol, saya harus menggunakan kereta ke Tilburg. Dalam kondisi tidak jelas sama sekali (meski sudah mempelajari rute dan alat transportasi di Belanda, begitu sampai disana ternyata blank). Yang pertama kali harus saya lakukan tentu saja membeli tiket. Pembelian tiket ini jika di dalam ruang pengambilan bagasi hanya dilakukan bagi yang sudah mempunyai OV-chipkaart (semacam kartu isi ulang). Ini yang membuat saya cukup blank karena tidak mempunyai info tentang itu. Saya bertanya-tanya, ternyata untuk naik kereta, jika tidak mempunyai kartu itu, harus membeli tiket secara manual. Di Schipol, pembelian tiket manual dilakukan di luar ruang pengambilan bagasi.
Pas jadwal kedatangan saya, ternyata jalur sedang ada perbaikan. Setelah lama berada disini, saya baru paham, perbaikan sering dilakukan di akhir minggu dan selalu diumumkan di website perusahaan kereta api Belanda (Nederlandse Spoorwegen), jadi jika akan bepergian, periksa dulu di website. Lumayan agak panik juga karena tidak tahu harus bagaimana. Ternyata ada kereta lain dengan pemberhentian terakhir di Breda. Dari Breda, saya masih harus ganti kereta menuju Tilburg. Perjalanan dari Schipol ke Tilburg melalui Breda menghabiskan waktu sekitar 2 jam (karena harus ganti kereta di Breda).
Akhirnya, sekitar pukul 10 saya sampai ke stasiun Tilburg central, dijemput oleh TemporaryHousingTilburg.com untuk diantar ke tempat tinggal yang sudah saya pesan ke mereka. Sangat melelahkan sampai kemudian saya tertidur sampai tengah malam. That was my first day in Tilburg. :)





wow.... Pak Bambang... Selamat Pak.atas diterimanya bapak sebagai penerima beasiswa dari Dikti... Perjalanan ke luar negeri memang "real adventure"... saya masih bermimpi ingin merasakan kuliah di Belanda seperti pak Bambang. Mohon informasi untuk kuliah S2 di belanda yang menurut Pak Bambang recommended pak..
ReplyDeleteMaturnuwun
-SOSE RV-